06 April 2009

^bobrok!!!^

040409 Kemarin, saya menghadiri salah satu pesta kampanye yang digelar salah satu partai terbesar di Indonesia. Tuntutan tugas! Saya bersama seorang teman yang juga kebetulan hunting foto untuk keperluan lomba yang akan dia ikuti. Kami sudah persiapkan handycam dan kamera sebagaimana mestinya. Bahkan kami sudah mempersiapkan diri untuk bolos kuliah kemarin. Untung saja hanya satu mata kuliah. Pagi, sekitar jam 9 lebih kami berangkat meninggalkan kota malang yang dingin ini menuju kota dimana matahari terasa lebih dekat di atas kepala. Ya, Surabaya… meskipun sesekali sempat diguyur hujan, tapi tetap saja yang namanya kota panas, akan tetap jadi kota panas. Dari Malang, kami semua mengendarai 3 mobil karena personil yang kami tumpangi berjumlah lebih dari 15 orang. 2 diantaranya plat merah. Sangat tidak mungkin kami menuju lokasi dengan menggunakan mobil tersebut. Menyalahi aturan tata tertib kampanye! Jadi, kami memilih memarkir kendaraan tersebut di tempat parkir rumah sakit yang dekat dengan lokasi. Dari sana kami menyewa angkutan umum, karena sepertinya tokoh yang dinanti-nanti akan segera sampai di lokasi kampanye. Sampai disana saya dan teman saya, Ardi, mengeluarkan senjata. Tapi tidak jadi, kami harus masuk lapangan terlebih dahulu agar bisa menyaksikan orator naek ke atas panggung dengan nyaman. Sempat sebelum masuk, terlihat di kejauhan sang orator baru saja menuruni bis yang dikendarainya. Terlampau jauh, tidak mungkin mendapatkan gambar yang bagus dari tempat kita berpijak. Masuk ke stadionpun kami lalui dengan penuh perjuangan, berdesak-desakan untuk bisa turun dari tribun ke lapangan rumput . kasihan, saya melihat samping saya ada seorang ibu yang di depannya ada anak kecil, kira-kira masih kelas 3 SD. Saat saya suruh ibu tersebut untuk menggendong anaknya, “tidak kuat” katanya. Saya dan Ardi hanya berdoa, semoga anak itu tidak apa-apa. Sampai di lapangan rumput kami berusaha masuk ke kerumunan beratus-ratus orang yang mengitari panggung utama. Sang orator mulai naik ke atas panggung. Kami berdua nekat menerobos kerumunan orang-orang itu, mencoba untuk tepat berada di depan panggung. Semua senjata kami amankan terlebih dahulu, yang penting bagaimana bisa sampai bawah panggung pas. Ada dua fotografer juga rupanya yang ingin ke depan panggung, kami mengikuti mereka dan dengan susah payah, akhirnya sampai juga di pagar pembatas depan panggung. Secepatnya ambil handycam, ternyata kasetnya habis dan tidak bisa digunakan untuk merekam sedikitpun!!! Satu handphone yang disaku Ardi, lenyap!!! Bingung!!! Dia hilang mood untuk mengambil gambar sosok yang tegap berdiri yang kita kejar daritadi. Sedapatnya…saya ganti dengan memanfaatkan handphone saya untuk merekam kata-kata sang orator, kita butuh suara. Sempat juga beberapa foto saya ambil, berharap bisa berguna. Tak mau lama-lama, kami memutuskan untuk menjauhi panggung agar bisa berpikir jernih apa yang harus kami lakukan selanjutnya. Sepanjang perjalanan manuju dan meninggalkan kerumunan depan panggung, ada kejadian-kejadian yang dilakukan setan berwujud manusia ini. Tangan-tangan jahil itu, sempat-sempatnya sengaja menyentuh apa yang bukan haknya. Saya tidak mau lagi datang ke tempat seperti itu. Sangat menakutkan melihat orang-orang yang rata-rata lebih dewasa dari kita, macam-macam dengan kita dan kita tidak tahu apa yang mereka semua pikirkan. Setelah acara orasi selesai, orang-orang mulai banyak yang meninggalkan lapangan. Ada satu tontonan yang tersisa, dari para pendukung parpol tersebut, mereka menggelar parade musik kreatif. Dari alat musik tradisional, seperti kenong, gong, dsj ditambah dengan tong-tong besar, mereka menyuguhkan hiburan yang sangat menarik. Lirik lagunya berupa mars parpol dan yel-yel unik yang mereka ciptakan sendiri. Setelah terasa cukup, hari mulai sore dan kami harus segera kembali ke Malang. Dari tempat parkir mobil, saya diminta Ardi untuk sekali lagi menelpon handphone yang hilang tadi, ternyata ada seorang laki-laki yang mengangkat. Untungnya orang tersebut tinggal di Malang, di daerah kabupaten, kami minta alamatnya agar bisa mengambil handphone kami. Alhamdulillah… Itulah cerita saya yang agak kurang menyenangkan, nampaknya dewi fortuna tidak suka tempat panas…ha13… Jangan lupa beri komentar, agar kita bisa sharing… Arigato…

1 komentar:

  1. mmmmmm......
    sebelum perang harus bawa senjata he3x.
    memang mawar.....
    indah tapi terlindungi
    memiliki sistem pertahanan yang diciptakan oleh Allah
    something i think, u........................................ distinctive

    BalasHapus